TUGAS
MANAJEMEN KELAS di SD
Oleh:
Annisa Zahra
1620181
Dosen Pengampu:
Yessi Rifmasari, M.Pd.
Kelas: 7.5 PGSD
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
ADZKIA PADANG
2019
A. Konsep Manajemen Pembelajaran
Proses pembelajaran sangat terkait dengan berbagai komponen yang sangat kompleks. Antara komponen yang satu dengan komponen lainnya memiliki hubungan yang bersifat sistematik, maksudnya masing-masing komponen memiliki peranan sendiri-sendiri tetapi memiliki hubungan yang saling terkait. Masing-masing komponen dalam proses pembelajaran perlu dikelola secara baik. Tujuannya agar masing-masing komponen tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal. Hal ini akan terwujud, jika guru sebagai desainer pembelajaran memiliki kompetensi manajemen pembelajaran.
Manajemen merupakan serangkaian proses yang dilaksanakan dalam sebuah kegiatan guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan diharapkan. Banyak ahli yang memberikan definisi tentang manajemen yang dikutip oleh Dayat dalam Jurnal tentang pengantar teori Manajemen, diantaranya:
a. Harold Koontz & O’ Donnel dalam bukunya yang berjudul “Principles of Management”mengemukakan, “manajemen adalah berhubungan dengan pencapaian sesuatu tujuan yang dilakukan melalui dan dengan orang-orang lain”.
b. George R. Terry dalam buku dengan judul “Principles of Management”memberikan definisi: “manajemen adalah suatu proses yang membedakan atas perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan pelaksanaan dan pengawasan, dengan memanfaatkan baik ilmu maupun seni, agar dapat menyelesaikan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya”.
c. G.R. Terri, manajemen diartikan sebagai proses yang khas yang terdiri atas perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan yang dilakukan untuk menentukan dan usaha mencapai sasaran-sasaran dengan memanfaatkan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas, maka manajemen dapat diartikan sebagai aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan, agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya. Disamping itu, manajemen bertugas memadukan sumber-sumber pendidikan secara keseluruhan dan mengontrol/mengawas agar tepat dengan tujuan pendidikan yang melibatkan fungsi-fungsi pokok manajemen.
Menurut Gagne sebagaimana yang dikemukakan oleh Margaret E. Bell Gredler bahwa istilah pembelajaran dapat diartikan sebagai “ seperangkat acara peristiwa eksternal yang dirancang untuk mendukung terjadinya proses belajar yang sifatnya internal “. Pengertian ini mengisyaratkan bahwa pembelajaran merupakan proses yang sengaja direncanakan dan dirancang sedemikian rupa dalam rangka memberikan bantuan bagi terjadinya proses belajar. Pendapat semakna dengan definisi diatas dikemukakan oleh J. Drost yang menyatakan bahwa pembelajaran merupakan usaha yang dilakukan untuk menjadikan orang lain belajar. Sedangkan Mulkan memahami pembelajaran sebagai suatu aktivitas guna menciptakan kreatifitas peserta didik.
Berdasarkan berbagai pendapat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang di usahakan dalam rangka agar orang dapat melakukan aktivitas belajar dengan harapan mewujudkan tujuan pembelajaran. Setelah mengetahui masing-masing pengertian dari manajemen dan pembelajaran, selanjutnya manajemen pembelajaran artinya yaitu suatu usaha untuk mengelola sumber daya yang digunakan dalam pembelajaran, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.
B. Tujuan Manajemen Pembelajaran
Tujuan ditentukan berdasarkan penataan dan pengkajian terhadap situasi dan kondisi organisasi seperti kekuatan dan kelemahan, peluang dan ancaman. Pencapaian suatu tujuan yang tinggi ada kaitannya dengan kepuasan individu maupun kelompok. Dilakukan manajemen agar pelaksanaan suatu usaha terencana secara sistematis dan dapat dievaluasi secara benar, akurat dan lengkap sehingga mencapai tujuan secara produktivitas, berkualitas, efektif, dan efisien.
Produktivitas, adalah perbandingan terbaik antara hasil yang diperoleh dengan jumlah besar yang dipergunakan. Kajian terhadap produktivitas secara komprehensif adalah keluaran yang banyak dan bermutu dan tiap-tiap fungsi atau peranan penyelenggaraan pendidikan.
Kualitas, menunjukkan pada suatu ukuran penilaian atau penghargaan yang diberikan atau dikenalkan kepada barang (products) dan/atau jasa (services) tertentu berdasarkan pertimbangan objektif atas bobot dan/atau kinerjanya. Pelayanan tersebut tentunya harus seimbang dengan kebutuhan dan harapan pelanggan.
Efektivitas, merupakan ukuran keberhasilan mencapai tujuan pembelajaran. Efektivitas berarti berusaha untuk dapat mencapai sasaran yang telah ditetapkan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan, sesuai pula dengan rencana, baik dalam penggunaan data, sarana, maupun waktunya, atau berusaha melalui aktivitas tertentu baik secara fisik maupun non fisik untuk memperoleh hasil yang maksimal baik secara kuantitatif maupun kualitatif.
Efisiensi, dalam pembelajaran adalah pencapaian tujuan pembelajaran secara optimal dengan penggunaan sumber daya seminimal mungkin, dari waktu, biaya, tenaga dan sarana.
C. Kebijakan tentang Manajemen Pembelajaran
1. Perencanaan Kebijakan
Perencanaan merupakan usaha yang dilakukan kepala sekolah untukmengembangkan strategi yang akan dilaksanakan untuk mengubah kondisi pembelajaran yang lebih efektif dan efisien.
a. Peningkatan kualitas guru.
b. Kegiatan belajar mengajar.
c. Siswa sebagai pusat.
2. Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan merupakan suatu proses pemecahan masalah dengan menentukan pilihan dari beberapa alternatifuntuk menetapkan suatu tindakan dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Keputusan yang diambil bersifat terstruktur dan tidak terstruktur. Keputusan yang terstruktur dapat diambil seperti informasi, data, dan fakta secara lengkap untuk memecahkan masalah sesuai prosedur. Sedangkan keputusan yang tidak terstruktur merupan keputusan yang diambil seperti data dan informasi yang tidak tersedia untuk pengambilan keputusan.
3. Kebijakan Sekolah
Membangun komunitas belajar yang produktif dan memotivasi siswa agar terlibat dalam kegiatan bermakna adalah tujuan utama pengajaran. Sebaliknya guru–guru yang efektif menerapkan berbagai sebuah aspek permanen kelasnya yang kebutuhan psikologis siswam- siswanya terpenuhi bahwa mereka menemukan kegiatan belajar yang menarik dan bermakna serta mereka yakin akan berhasil.
D. Peran Guru dalam Manajemen Kelas
Adapun peranan guru menurut pendapat para ahli berikut yang dikutip dalam buku Sardiman (2012, 143) adalah:
1) Prey Katz menggambarkan peranan guru sebagai komunikator, sahabat yang dapat memberikan nasihat-nasihat, motivator sebagai pemberi inspirasi dan dorongan, pembimbing dalam pengembangang sikap dantingkah laku serta nila-nilai, orang yang menguasi bahan yang diajarkan.
2) Havighurst menjelaskan bahwa peranan guru di sekolah sebagi pegawai (employee) dalam hubungan kedinasan, sebagai bawahan (subordinate) terhadap atasannya, sebagai kolega dalam hubungannya dengan temansejawat, sebagai mediator dalam hubungannya dengan anak didik, sebagai pengatur disiplin, evaluator dan penganti orang tua.
3) James W. Brown mengemukakan bahwa tugas dan peranan guru antaralain: menguasai dan mengembangkan materi pelajaran, merencana dan mempersiapkan pelajaran sehari-hari, mengontrol dan mengevaluasi kegiatan siswa.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat simpulkan bahwa peranan guru dalam proses belajar mengajar begitu besar memberi fasilitas pencapaian tujuan melalui pengalaman belajar yang memadai dan membantu perkembangan aspek-aspek pribadi, seperti sikap, nilai-nilai, dan penyesuaian diri
Menurut Sardiman (2012:144) peranan guru dalam kegiatan belajar-mengajar, secara singkat dapat disebutkan sebagai berikut:
(a), Informator
(b), Organisator
(c), Motivator
(d), Pengarah
(e), Inisiator
(f), Transmiter
(g), Fasilitator
(h), Mediator
(i), Evaluator
Manajemen atau pengelolaan dalam pengertian umum menurut Arikunto(2010:175) adalah pengadministrasian, pengaturan dan penataan suatu kegiatan. Sedangkan kelas terkandung suatu pengertian, yaitu sekelompok siswa, yang pada waktu yang sama menerima pengajaran yang sama dari guru yang sama. Menurut Djamarah dan zain (2006:173). Manajemen kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, manajemen kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan Manajemen kelas adalah usaha guru untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang memungkinkan pengelolaan pengajaran dapat berlangsung dengan berhasil dikemukakan bahwa manajemen kelas merupakan suatu proses seleksi tindakan yang dilakukan guru dalam fungsinya sebagai penanggungjawab kelas dan seleksi penggunaan alat-alat belajar yang tepat sesuai dengan masalah yang ada dan karakteristik kelas yang dihadapi”. Jadi, manajemen kelas sebenarnya upaya mendayagunakan seluruh potensi kelas baik sebagai komponen utama pembelajaran maupun komponen pendukungnya.
E. Kode Etik Guru Indonesia
Guru Indonesia menyadari bahwa pendidikan adalah pengabdian terhadap Tuhan Yang Maha Esa, bangsa dan Negara, serta kemanusiaan pada umumnya. Guru Indonesia yang berjiwa Pancasila dan setia pada Undang-Undang Dasar 1945, turut bertanggung jawab atas terwujudnya cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, oleh sebab itu terpanggil untuk menunaikan kewajibannya dengan memedomani dasar-dasar sbb :
1. Guru berbakti dalam membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa pancasila.
2. Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran profesional, berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan bimbingan dan pembinaan.
3. Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses belajar mengajar.
4. Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat sekitarnya untuk membina peran serta dan rasa tanggungjawab bersama terhadap pendidikan.
5. Guru secara pribadi dan bersama-sama, mengembangkan dan meningkatkan mutu profesinya.
6. Guru memelihara hubungan seprofesi.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka CiptaDjamarah dan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta
A. M. Sadirman. 2012. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Press.
Materinya sangat bagus dan menarik
BalasHapusMembantu sekali
BalasHapusMaterinya sangat bagus dan bermanfaat bagi saya
BalasHapustulisannya sangat membantu, terutama saya pribadi sebagai pembaca, terimaksih ilmunya kak
BalasHapusTerimakasih, postingan nya cukup membantu..
BalasHapusSangat membantu trmksh kk
BalasHapusSangat membatu sekali
BalasHapus👍
BalasHapus👍
BalasHapusMaterinya sudah membantu saya dalam mengerjakan tugas. Terima kasih kk
BalasHapusSangat bermanfaat, terus lanjutkan!
BalasHapussangat membantu sekali
BalasHapusMaterinya sangay bermanfaat sekali
BalasHapusTerima kasih atas postingannya, sangat bagus dan bermanfaat sekali..
BalasHapus